Minggu, 29 April 2018

AKHWAT TEKNIK BERTEMAN DG LAKI-LAKI MANTIAK? siapa bilang?

i'm come back, setelah sekian lama ngurusin TA yang gak kelar2.. maklum, buat TA gak segampang ngarang bebas..
well, dengan berbagai macam presepsi org mengenai akhwat yang temenan sama cowok "mantiak (genit, centil dan sejenisnya, whateverlah)" kata mereka.. mungkin org tersebut berasumsi bahwa akhwat tidak boleh bergaul dengan laki2 sama sekali.. yang intinya cuma mereka yang boleh dekat dengan para lelaki untuk kepentingan hati.. jadi kalau ada liat akhwat teknik lebih banyak kenal cowok mereka kebakaran rambut.. ya kali kebakaran jenggot..
maklum, pemuda2 teknik itu gagah2, pinter2, cool2, dan macho.. takut kali gak kebagian cowok teknik, sampe dengan gampangnya bilang "ih, tu anak jilbab panjang tapi mantiak" hello lu kira gue dekat dengan cowok sebagai penggoda?
agak sebel dengernya, tapi ya maklum orang2 yang berfikiran sempit memang demikian.. anggaplah begitu.. seandainya kalian berfikiran terbuka, dekat dengan senior, dan berteman dengan banyak laki2 itu wajar dilingkup teknik.. emg akhwat harus ekslusif? menyendiri, tidak bisa maju dan berkembang? salah besar, jika itu yang kalian fikirkan.. maka bersiaplah untuk mundur kebelakang, karena kalian tidak akan pernah bisa melangkah maju dengan pemikiran yang stuck disana aja.

mungkin kalian butuh bocoran, pada saat teman2 saya sibuk bersenang2 dengan teman2 seangkatan, dan mereka menjudge saya adalah org yang tidak bisa bergaul, dll.. saya lebih memilih untuk dekat dengan senior dan berteman dengan siapa saja itu untuk membangun jaringan.. bukan perkara hati.. lalu saya mendengar banyak teman2 saya yang mengatakan saya adalah akhwat mantiak, ya terserah saja.. itu presepsi masing2. karena sejatinya menyapa didunia nyata akan lebih baik daripada didunia maya.. karena apa? yang akan membantu mu itu manusia nyata bukan manusia maya..
bagi seorang engineer apalagi masih mahasiswa, kita butuh yang namanya link.. meski hanya sekedar untuk mengetahui informasi mengenai dunia kerja.. namun kalau kalian merasa tidak butuh, dan sangat percaya diri untuk bisa maju ke dunia kerja tanpa informasi dan bimbingan. maka majulah.. tapi saat engkau mentok pada suatu jurang, jangan pernah menoleh kebelakang untuk menyesali kenapa engkau tidak memanfaatkan waktu membangun jaringan..

Jumat, 31 Maret 2017

kisah kusut anak teknik

MUSLIMAH ENGINEER |.. wow..|
 what do u think about that ? "exceptional.. difficult.. and impressive?" yes, that's true..

jadi seorang muslimah engineer itu menyenangkan, seru, menantang, harus tahan banting,dan yang iyanya uji nyali.. :v
kalau sanak2 sadonyo pengen tau, itulah perasaan seorang akhwat yang terjebak di fakultas teknik..
campur aduk kayak nano2 sebenarnya lebih rumit karena menyandang status "akhwat" kalau yang diatas itu tuh, 
perasaan umum dan paling dasar dari seorang mahasiswa teknik..
yuhuuuu.. dosen killer, pelajaran susah, tugas seabrek dikejar deadline, dapet tugas jam 6 sore, 
kumpulnyaaa besok pagi dong jam 7.. haha itu kerennya.. sleeping beauty huhu hanya "MIMPI".

jadi akhwat di fakultas teknik susahnya bukan itu, tapi dari segi pergaulan, diteknik banyak pujangga haha 
jadi efeknya sungguh mengerikan.. VMJ wuihh itu rentan banget tuh., belum lagi senior2 yang menyandang status
aktivis,belum lg para ikhwan gagah keren dan cerdas siap menguji iman haha.. 
(menundukkan pandangan sangat dianjurkan)..
nahh yang jadi masalah utama itu bukan para pujangga2 teknik, tapi sudut pandang orang yang gak bakalan 
bisa diatur sesuai kondisi..maksudnya gini loh, misal terdesak mau cari komponen, pasar udah tutup, 
harus nyari ketoko komponen yang jauh dan bukan jalur angkot..
temen cewek sih ada, tapi gak ada yang peka, tapi pekak.. dimintain tolong susahnyaaa minta ampun, 
eh datang deh brother2 kece menawarkan tebengan dengan senyum sumringah.. lalu? mau nolak tapi urgent.. 
mau iyain takutnya dikira pacaranlah, ah masa akhwat boncengan sama laki2 blablabla. 
buat orang suudzon itu yang berat, berat dosanya >< endingnya, yaudah muncul solusi meskipun harus memelas
"sanaak, nitip aja yaaa.." 

berbagai masalah yang biasa ditemui akhwat2 teknik itu buanyaak banget,. 

1.pake rok waktu praktikum, haha kena bentak dosen "mau cari mati kamu? ngapain praktek pake2 rok, 
kalau kamu kecelakaan kerja,tanggung sendiri"

2.pake jilbab panjang, temen2 bilang., mubazirlah, nanti keinjek dll..

3.ngobrol sama teman lawan jenis, bahas tugas tapi ribuan mata menatap dan seakan bilang, gue pengen banget makan lu.. haha padahal cuma sinis "DOANG" haha

jadi, mau tau gimana kisah para akhwat di fakultas teknik?
sabar ya :D masih belajar nulis, insyaallah nanti dibukukan.. see u all

Kamis, 30 Maret 2017

back to the surface "muslimah engineer"

Assalamualaykum everyone.. my brother & sister seiman..
huhu i'm come back guys.. hmm, setelah menghilang beberapa lama.. udah melanglang buanaa, sampee medan :v
kalau kecek nenek wak tu, kok ado tahilalat dikaki itu type org pelala (merantau) didalam kota ndak pernah melala.. haha mandok se wak di rumah :D alhamdulillah udah sampe medaaann.. dan kembali dengan selamat.. balik lagi jalani rutinitas sebagai mahasiswi teknik elektro industri di Universitas Negeri Padang tercinta..
perkenalkan, ane adhilah AK yang selalu ceria.. alhamdulillah haha.. yaps, ane muslimah engineer dari teknik elektro, yang rada-rada dikit, hehe.. lagi proses memperbaiki diri :) insyaallah..
type orang yang ceria, dan pecinta anak kecil..huhuhu kalau kataa ukhti annisa (eh mu kalau liat anak kecil kayak psikopat pengen nyulik anak) huaaaa.. muka imut dan unyu gini diblg kayak psikopat, penculik juga.. hmm, liat aja kalau aku punya anak chaaaa.. ku sayangi dan ku didik sepenuh hati ahaha..

ehm, sekarang mulai jadi adhilah yang feminim.. :)
jadi ana adalah akhwat teknik yang pengen banget nerbitin buku karya ana, tapi belum ada kepercayaan diri. mulai dari blog dulu mungkin, ya rapopo.. belajar nulis dengan gaya bahasa yang asik dan ngangenin, biar yang baca gak bosan..
sekarang ngeblog untuk selingan kalau lagi jenuh ngerjain TA.. jadi, agak konslet sedikit.. tapi semua aman terkendali :) Insyaallah..
untuk kedepannya bakalan banyak nulis karena bakalan semangat banget untuk wisuda september 2017..

liat akhwat2 sekarang keren2, masyaallah :)
bismillah mulai dari awal, berbagi hal2 yang bermanfaat.. awal perkenalan memang agak aneh, nyeleneh, tapi percayalah.. ana akhwat manis yang kalem kok haha.. becanda (kita gak boleh ujub yaaa)

Selasa, 26 Januari 2016

surat untuk calon mama mertua

assalamualaykum.. untukmu yang akan menjadi ibu kedua bagiku..
wahai mama.. maafkanlah calon menantumu ini apabila nanti engkau merasa aku ingin merebut dia dari dekapanmu..

wahai mama ketahuilah bahwa aku tak akan pernah merebutnya darimu. aku hanya ingin menjalani tugasku sebagai pendampingnya mama.. aku tahu mama pasti lelah mengandung,. merawat dan membesarkannya selama ini.. aku tahu mama cemburu dan takut anakmu lebih menyayangiku..

wahai mama sekarang inilah waktunya engkau beristirahat menikmati masa tuamu tanpa harus repot mengurusinya lagi.. percayalah mama aku akan menggantikanmu mengurusnya untukmu.. ma, jangan khawatir.. engkau akan tetap menjadi wanita pertama dalam hidupnya.. menjadi cinta pertamanya.. dan kasih sayangnya utuh untukmu. aku berjanji akan selalu mengingatkannya untuk mengabarimu setiap waktu, mengunjungimu sesering mungkin,. dan memelukmu dengan hangat.. ma, aku akan mengingatkannya tentang kewajiban seorang anak laki2 terhadap ibunya.. ma aku berjanji akan menyisihkan beberapa gajinya untukmu ma, untuk adik2nya ma.. aku tak akan keberatan sedikitpun,.

wahai mama.. nanti aku akan datang sebagai orang asing dikehidupan keluarga mama,. ma, aku mohon ajarkan aku segala hal yang engkau sukai ma.. aku ingin belajar banyak hal kepada mama..
mama jangan khawatir.. apapun yang terjadi aku tak akan membangkang padamu ma,. aku akan menjadi istri dan menantu yang patuh.. karena engkau mama keduaku.. aku berjanji akan mencintai dan menyayangimu seperti ibuku sendiri.. akan merawatmu dengan cinta dan kasih..

terimakasih mama engkau telah mengizinkan ku mendampingi putramu.. aku berjanji akan menjadi wanita hebat sepertimu ma,.

salam sayang.. calon menantu mama..

Rabu, 21 Oktober 2015

MENCINTAIMU TANPA HENTI

assalamualaykum.. My future husband.. :')
apa kabarmu disana? sehat kah? bagaimana kondisi iman mu? adakah meningkat?
bagaimana kedekatanmu terhadapNya? semoga semakin taat kepada Rabb kita :')

mungkin bila ada yang berkata, ah dia berlebih-lebihan, bodoh,tolol dan sebagainya.. mengungkapkan cinta kepada orang yang belum diketahui rupanya bagaimana.. tapi bagiku inilah cara yang tepat untukku menjaga hati ketika engkau belum datang mmenjemputku...

my future husband.. aku tak akan pernah bosan menantimu,. aku tak pernah bisa berhenti merindukanmu.. mencintaimu karena Allah itu, sangat membahagiakan bagiku. karena apa? karena aku mencintaimu bukan karena fisik, materi dan apalah faktor lain yang biasanya disebutkan para wanita lain sebagai kriteria mencintai seseorang laki2..

karena aku yakin siapapun dirimu, bagaimanapun rupa mu, dan bagaimapun kondisi2 lainnya aku tetap mencintaimu. [titik]
. mungkin nanti engkaupun akan terheran2 mengapa aku sebegitu yakin padamu.. maka satu2 nya respon yang akan ku berikan kepadamu nanti adalah, senyuman termanisku dan sepatah kata "aku yakin karena Allah langsung yang memilihkan dirimu untukku".

bersambung....

Rabu, 07 Oktober 2015

Jadilah Seperti Lebah

Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)

Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., “Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”

Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.
Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)
Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:

Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.
Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.
Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:
Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)
Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).
Mengeluarkan yang bersih.
Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya!
Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)
Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.
Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.

Tidak pernah merusak
Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.


Bekerja keras
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.

Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan
Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)


Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu
Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.
Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl. Allahu a’lam. []

“Mencintai sejantan Ali"

buku: Jalan Cinta Para Pejuang (Salim A Fillah)
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.

Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur,

datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?

Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.

Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang.

Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,
dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kisah ini disampaikan disini, bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an Kisah ini disampaikan agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah
bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu
Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba`